KHUTBAH JUM'AT : MENJAGA HATI DAN LISAN DARI PRASANGKA, TAJASSUS, DAN GHIBAH

NASKAH KHUTBAH JUM’AT

“MENJAGA HATI DAN LISAN DARI PRASANGKA, TAJASSUS, DAN GHIBAH”
KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهٰذَا، وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Takwa bukan hanya tentang banyaknya ibadah yang terlihat oleh manusia, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga hati, pikiran, dan lisan dari perkara-perkara yang Allah murkai.

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita renungkan salah satu nasihat Allah yang sangat dalam, khususnya tentang penyakit hati dan penyakit sosial yang sering dianggap ringan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

«يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ»

Latin:

Yā ayyuhalladzīna āmanujtanibū katsīram minazh-zhanni inna ba‘dhazh-zhanni itsmun wa lā tajassasū wa lā yaghtab ba‘dhukum ba‘dhan. A-yuḥibbu aḥadukum an ya’kula laḥma akhīhi maitan fakarihtumūhu. Wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm.

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”

[QS. Al-Hujurat: 12]

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Perhatikanlah bagaimana Allah menyebutkan tiga perkara secara berurutan:

Pertama: prasangka buruk.

Allah berfirman:

«اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ»

“Jauhilah banyak dari prasangka.”

Tidak semua prasangka merupakan dosa. Tetapi Allah memperingatkan kita agar tidak membiarkan prasangka buruk menguasai hati.

Kadang-kadang kita melihat seseorang melakukan sesuatu yang tidak kita pahami. Kita langsung berkata dalam hati:

“Jangan-jangan dia sengaja.”

“Pasti dia punya maksud buruk.”

“Dia memang seperti itu.”

Padahal kita tidak mengetahui apa yang ada di dalam hatinya.

Bisa jadi apa yang kita sangka adalah salah.

Bisa jadi dia memiliki alasan yang tidak kita ketahui.

Bisa jadi dia sedang menghadapi masalah yang tidak pernah dia ceritakan.

Karena itu, seorang mukmin belajar untuk memberikan uzur dan mencari kemungkinan yang baik bagi saudaranya, selama memang ada ruang untuk itu.

Jamaah rahimakumullah,

Kedua: tajassus, yaitu mencari-cari kesalahan atau aib orang lain.

Allah berfirman:

«وَلَا تَجَسَّسُوا»

“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”

Betapa banyak hubungan persaudaraan rusak karena seseorang terlalu sibuk mencari kesalahan saudaranya.

Ada orang yang tidak puas sebelum mengetahui urusan pribadi orang lain.

Ia ingin mengetahui percakapan orang.

Ia ingin mengetahui masalah rumah tangga orang.

Ia ingin mencari apa yang disembunyikan orang lain.

Padahal bisa jadi Allah telah menutup aib tersebut.

Saudaraku,

Kalau Allah menutup aib seorang hamba, jangan kita menjadi orang yang justru membuka dan membongkarnya.

Sebab kita pun mempunyai aib.

Kita pun mempunyai kekurangan.

Kita pun mempunyai dosa yang tidak ingin diketahui manusia.

Maka sebagaimana kita berharap Allah menutup aib kita, hendaknya kita belajar menutup aib saudara kita.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Yang ketiga adalah ghibah.

Allah berfirman:

«وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا»

“Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain.”

Kemudian Allah memberikan sebuah perumpamaan yang sangat menggetarkan:

«اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ»

“Apakah ada di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik.”

Mengapa Allah menggunakan perumpamaan seperti ini?

Karena ghibah bukan sekadar “obrolan biasa”.

Ghibah menyentuh kehormatan manusia.

Orang yang kita bicarakan mungkin tidak hadir untuk membela dirinya.

Ia tidak mengetahui bahwa namanya sedang disebut.

Ia tidak dapat menjawab tuduhan atau perkataan tentang dirinya.

Maka Allah menggambarkan perbuatan tersebut seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal.

Sungguh mengerikan.

Dan yang lebih mengerikan lagi, terkadang lidah kita melakukan ghibah tanpa kita sadari.

Di rumah.

Di tempat kerja.

Di majelis.

Dalam pertemanan.

Bahkan terkadang di dalam percakapan melalui telepon dan media sosial.

Jamaah rahimakumullah,

Hari ini kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing:

Berapa banyak pahala yang kita kumpulkan dengan susah payah, tetapi kemudian kita rusak dengan lisan kita sendiri?

Kita shalat.

Kita berpuasa.

Kita bersedekah.

Kita membaca Al-Qur'an.

Tetapi setelah itu kita berbicara tentang keburukan orang lain.

Maka marilah kita menjaga lisan.

Sebelum berbicara tentang seseorang, tanyakan kepada diri kita:

“Kalau orang yang sedang saya bicarakan ini berdiri di depan saya, apakah saya berani mengatakan hal yang sama?”

Kalau jawabannya tidak, maka lebih baik kita diam.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan yang sangat tegas tentang menjaga lisan.

Beliau bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

Latin:

Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhiri falyaqul khairan au liyasmut.

Artinya:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Referensi: Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Derajat: Shahih, disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Maka seorang mukmin bukanlah orang yang selalu berbicara.

Seorang mukmin adalah orang yang tahu kapan harus berbicara dan tahu kapan harus diam.

Jamaah rahimakumullah,

Ayat ini juga memberikan kepada kita sebuah jalan keluar:

«وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ»

“Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”

Perhatikanlah kasih sayang Allah.

Setelah menyebut prasangka, tajassus, dan ghibah, Allah tidak menutup pintu kembali.

Allah mengingatkan:

“Aku adalah At-Tawwab, Maha Penerima Tobat.”

Maka kalau hari ini kita pernah berprasangka buruk, mari kita perbaiki.

Kalau pernah mencari-cari aib orang lain, mari kita berhenti.

Kalau pernah menggunjing, mari kita bertaubat.

Jangan menunggu tua.

Jangan menunggu sakit.

Jangan menunggu ajal datang.

Karena kita tidak pernah tahu kapan perjumpaan kita dengan Allah.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Mulai hari ini mari kita latih tiga perkara:

Pertama, perbaiki prasangka.

Berikan saudara kita uzur selama masih memungkinkan.

Kedua, berhenti mencari-cari aib.

Kesibukan terbaik seorang mukmin adalah memperbaiki aib dirinya sendiri.

Ketiga, jaga lisan.

Sebelum berbicara, pikirkan: apakah ucapan ini benar, bermanfaat, dan diridai Allah?

Kalau tidak, maka diam adalah keselamatan.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari buruk sangka, menjaga mata dan telinga kita dari tajassus, dan menjaga lisan kita dari ghibah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu menjaga kehormatan saudara-saudaranya.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

---

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Marilah kita pulang dari masjid ini dengan satu tekad:

Jangan biarkan hati kita menjadi tempat tumbuhnya prasangka buruk, jangan jadikan mata kita alat mencari aib saudara, dan jangan jadikan lisan kita senjata untuk merusak kehormatan sesama.

Mari kita tutup aib saudara kita.

Mari kita doakan kebaikan bagi mereka.

Mari kita belajar memaafkan.

Dan jika kita tergelincir dalam ghibah, jangan merasa ringan. Segeralah bertaubat kepada Allah dan berusaha memperbaiki keadaan dengan cara yang bijaksana, tanpa menambah kerusakan.

Allah berfirman:

«إِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ»

“Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

Jamaah rahimakumullah,

Marilah kita berdoa:

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوْبَنَا، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْغِيْبَةِ وَالنَّمِيْمَةِ وَالْكَلَامِ الَّذِيْ لَا يُرْضِيْكَ.

اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ سُوْءِ الظَّنِّ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَحْسُنُوْنَ الظَّنَّ بِعِبَادِكَ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قُلُوْبًا سَلِيْمَةً، وَأَلْسِنَةً صَادِقَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا، وَاحْفَظْ أَوْلَادَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا بُيُوْتًا مِلْؤُهَا الْمَحَبَّةُ وَالرَّحْمَةُ وَالطُّمَأْنِيْنَةُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ،

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Sakit Sebagai Ruang Penguatan Keluarga: Perspektif Parenting dan Psikologi Keluarga

Menghadapi Anak yang Enggan Taat: Memahami Akar Masalah dan Strategi Pembinaan yang Efektif

Belajar Ikhlas dari Keputusan Kecil: Ketika Rasa Tidak Enak Mengalahkan Pertimbangan Harga