KHUTBAH JUM’AT : EMPAT JALAN AGAR TIDAK MERUGI

NASKAH KHUTBAH JUM’AT

EMPAT JALAN AGAR TIDAK MERUGI

Iman, Amal Saleh, Saling Menasihati dalam Kebenaran dan Kesabaran
---

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ، وَجَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوْرًا.

نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya takwa.

Ketahuilah, jamaah yang dimuliakan Allah, bahwa setiap hari umur kita berkurang.

Setiap matahari terbit, satu hari kehidupan kita telah pergi.

Setiap matahari terbenam, satu bagian dari umur kita tidak akan pernah kembali.

Harta yang hilang mungkin bisa dicari kembali.

Pekerjaan yang hilang mungkin bisa diganti.

Kesempatan yang hilang terkadang masih bisa datang kembali.

Tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah dengan sesuatu yang sangat berharga:

«وَالْعَصْرِ ۝١ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝٢ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ۝٣»

Latin:

Wal-‘aṣr. Innal-insāna lafī khusr. Illallażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr.

Artinya:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.”

[QS. Al-‘Ashr: 1–3]

Jamaah rahimakumullah,

Perhatikan ayat ini.

Allah tidak mengatakan:

“Sebagian manusia berada dalam kerugian.”

Tetapi Allah berfirman:

«إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ»

“Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”

Mengapa?

Karena manusia sedang melakukan perjalanan menuju akhirat dengan umur yang terus berkurang.

Setiap detik yang berlalu berarti kesempatan hidup kita semakin sedikit.

Maka persoalannya bukan:

“Berapa lama kita hidup?”

Tetapi:

“Untuk apa umur kita digunakan?”

---

JAMAah YANG DIRAHMATI ALLAH

Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak termasuk dalam kerugian adalah mereka yang memiliki empat sifat: beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Dalam penjelasannya, tawāṣī bil-ḥaqq dikaitkan dengan iman, sedangkan tawāṣī biṣ-ṣabr mencakup kesabaran dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.

Maka empat perkara ini harus kita renungkan.

---

PERTAMA: IMAN

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Allah menyebutkan:

«إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا»

“Kecuali orang-orang yang beriman.”

Ini adalah fondasi pertama.

Sebab manusia bisa memiliki harta tetapi tidak memiliki ketenangan.

Bisa memiliki jabatan tetapi tidak memiliki arah hidup.

Bisa memiliki ilmu tetapi ilmu tersebut tidak mendekatkannya kepada Allah.

Bisa memiliki banyak teman tetapi hatinya tetap merasa sendirian.

Imanlah yang memberikan arah.

Dengan iman, seseorang memahami:

Dari mana aku berasal?

Untuk apa aku hidup?

Ke mana aku akan kembali?

Allah mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah kehidupan tanpa tujuan.

Maka jangan sampai kita menghabiskan umur untuk mengejar dunia, tetapi lupa mempersiapkan akhirat.

---

KEDUA: AMAL SALEH

Setelah iman, Allah berfirman:

«وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ»

“Dan mengerjakan amal saleh.”

Ini menunjukkan bahwa iman tidak berhenti pada pengakuan.

Iman harus melahirkan amal.

Shalat kita harus menjadi nyata.

Kejujuran kita harus nyata.

Sedekah kita harus nyata.

Berbakti kepada orang tua harus nyata.

Menjaga lisan harus nyata.

Menolong sesama harus nyata.

Meninggalkan maksiat juga merupakan bagian dari perjuangan kita menjaga iman.

Jamaah rahimakumullah,

Jangan menunggu menjadi orang besar untuk melakukan kebaikan.

Kebaikan tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar.

Tersenyum kepada saudara.

Membantu orang tua.

Memberi makan orang yang membutuhkan.

Mengajarkan ilmu.

Membaca Al-Qur'an.

Memaafkan kesalahan orang.

Menjaga lisan dari ghibah.

Semua itu dapat menjadi amal saleh apabila dilakukan karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syariat.

Maka tanyakan kepada diri kita:

Hari ini, apa amal yang sudah saya persembahkan kepada Allah?

---

KETIGA: SALING MENASIHATI DALAM KEBENARAN

Allah berfirman:

«وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ»

“Dan saling menasihati dalam kebenaran.”

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Perhatikan kata yang digunakan Allah:

تَوَاصَوْا

Bukan hanya satu orang menasihati yang lain.

Tetapi saling menasihati.

Artinya kita semua membutuhkan nasihat.

Orang tua membutuhkan nasihat.

Anak membutuhkan nasihat.

Guru membutuhkan nasihat.

Murid membutuhkan nasihat.

Orang kaya membutuhkan nasihat.

Orang miskin membutuhkan nasihat.

Pemimpin membutuhkan nasihat.

Rakyat membutuhkan nasihat.

Tidak ada manusia yang boleh merasa:

“Saya sudah cukup baik. Saya tidak membutuhkan nasihat.”

Karena manusia bisa lupa.

Manusia bisa lalai.

Manusia bisa tergelincir.

Maka kita membutuhkan saudara yang mengingatkan kita ketika kita mulai jauh dari Allah.

Tetapi ada satu hal penting:

Nasihat harus disampaikan dengan cara yang baik.

Jangan menjadikan nasihat sebagai kesempatan untuk mempermalukan.

Jangan menjadikan dakwah sebagai sarana menghina.

Jangan mengoreksi kesalahan seseorang dengan cara yang justru membuatnya semakin jauh dari kebenaran.

Nasihat seharusnya lahir dari kasih sayang.

Bukan dari kesombongan.

---

KEEMPAT: SALING MENASIHATI DALAM KESABARAN

Jamaah rahimakumullah,

Allah menutup surat ini dengan:

«وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ»

“Dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Mengapa kesabaran disebut secara khusus?

Karena perjalanan menuju Allah tidak selalu mudah.

Ada ujian.

Ada sakit.

Ada kehilangan.

Ada kegagalan.

Ada fitnah.

Ada godaan.

Ada keinginan yang belum tercapai.

Ada orang yang menyakiti kita.

Ada keadaan yang tidak sesuai dengan harapan.

Maka kita membutuhkan sabar.

Sabar bukan berarti tidak boleh menangis.

Sabar bukan berarti tidak boleh merasa sedih.

Sabar bukan berarti tidak boleh mengeluh kepada Allah.

Sabar berarti tetap berada di jalan ketaatan ketika keadaan terasa berat.

Tafsir Jalalain menjelaskan tawāṣī biṣ-ṣabr sebagai saling menasihati dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

---

JANGAN SENDIRIAN DALAM PERJUANGAN

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Ada orang yang hari ini sedang lemah imannya.

Jangan kita hina.

Dekati.

Nasihati dengan lembut.

Ada saudara kita yang sedang menghadapi masalah keluarga.

Jangan buru-buru menghakimi.

Dampingi.

Ada teman kita yang sedang jatuh dalam dosa.

Jangan langsung kita cap sebagai manusia buruk.

Bantu dia kembali.

Ada seseorang yang sedang berusaha istiqamah tetapi berkali-kali jatuh.

Jangan katakan:

“Kamu memang tidak akan berubah.”

Katakan:

“Ayo kita coba lagi. Allah masih membuka pintu taubat.”

Inilah makna saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Kita tidak hanya ingin menjadi orang baik sendirian.

Kita ingin menjadi sebab orang lain menjadi baik.

---

UMUR ADALAH MODAL YANG TIDAK BISA KEMBALI

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Coba kita bayangkan.

Seandainya hari ini Allah memberikan kepada kita satu miliar rupiah dan berkata:

“Gunakan uang ini sampai malam.”

Apakah kita akan menyia-nyiakannya?

Tentu tidak.

Kita akan menghitungnya.

Kita akan menjaganya.

Kita akan menggunakannya sebaik mungkin.

Lalu bagaimana dengan umur?

Allah memberikan kepada kita waktu setiap hari.

Tetapi kita sering menghabiskannya tanpa perhitungan.

Padahal uang yang hilang mungkin bisa dicari.

Waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.

Maka sebelum tidur, mari bertanya:

Apa yang sudah saya lakukan hari ini?

Apakah hari ini saya semakin dekat kepada Allah?

Apakah hari ini ada dosa yang harus saya tinggalkan?

Apakah hari ini ada amal saleh yang saya lakukan?

Apakah hari ini saya sudah membantu seseorang?

Apakah hari ini saya sudah mengingatkan saudara saya dalam kebaikan?

Apakah hari ini saya sudah bersabar?

---

JANGAN SAMPAI KITA RUGI

Jamaah rahimakumullah,

Kerugian yang paling besar bukan ketika kita kehilangan uang.

Kerugian terbesar adalah ketika umur habis, tetapi bekal akhirat tidak bertambah.

Kerugian terbesar adalah ketika tubuh sehat tetapi digunakan untuk maksiat.

Kerugian terbesar adalah ketika ilmu bertambah tetapi amal tidak bertambah.

Kerugian terbesar adalah ketika kita mempunyai kesempatan berbuat baik tetapi memilih menundanya.

Karena itu, jangan selalu berkata:

“Nanti saya berubah.”

“Nanti saya belajar agama.”

“Nanti saya memperbaiki shalat.”

“Nanti saya bertaubat.”

Kita tidak tahu apakah kata “nanti” masih diberikan Allah kepada kita.

Maka lakukan kebaikan hari ini.

---

PENUTUP KHUTBAH PERTAMA

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Surat Al-‘Ashr memberikan kepada kita peta kehidupan yang sangat ringkas tetapi sempurna:

Pertama, perbaiki iman.

Kedua, perbanyak amal saleh.

Ketiga, peduli kepada sesama dengan saling mengingatkan dalam kebenaran.

Keempat, saling menguatkan dalam kesabaran.

Jika empat perkara ini kita perjuangkan, insya Allah umur kita tidak berlalu sia-sia.

Mari kita manfaatkan sisa umur sebelum datang hari ketika kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk menambah amal.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

---

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Sebelum kita meninggalkan masjid ini, mari kita membawa pulang satu pesan:

Jangan biarkan hari ini berlalu tanpa kebaikan.

Kalau belum mampu melakukan amal besar, lakukan amal kecil.

Kalau belum mampu membantu banyak orang, bantu satu orang.

Kalau belum mampu memberikan harta, berikan senyum dan perkataan yang baik.

Kalau melihat saudara kita lemah, kuatkan.

Kalau melihat saudara kita salah, nasihati dengan kasih sayang.

Kalau melihat saudara kita sedang diuji, temani dengan kesabaran.

Karena bisa jadi kebaikan kecil yang kita lakukan hari ini menjadi sebab keselamatan kita di akhirat.

Jamaah rahimakumullah,

Mari kita jadikan keluarga kita tempat pertama untuk saling menasihati.

Suami mengingatkan istri dengan lembut.

Istri mengingatkan suami dengan kasih sayang.

Orang tua membimbing anak.

Anak menghormati dan mengingatkan orang tua dengan adab.

Kemudian kita jadikan lingkungan kita sebagai lingkungan yang saling menguatkan.

Bukan lingkungan yang membuat kita semakin jauh dari Allah.

Karena manusia akan sangat dipengaruhi oleh siapa yang menjadi teman dan lingkungan terdekatnya.

---

DOA

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ، وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَوْقَاتِنَا، وَاجْعَلْ أَعْمَارَنَا زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ.

اَللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْ أَوْقَاتَنَا ضَائِعَةً، وَلَا أَعْمَارَنَا فِي الْغَفْلَةِ، وَلَا أَعْمَالَنَا رِيَاءً.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا إِيْمَانًا صَادِقًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَنَفْسًا صَابِرَةً.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا سَبَبًا لِلْخَيْرِ، وَاجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْهُدَى، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَدْعُوْنَ إِلَى الْحَقِّ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَأَصْلِحْ أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَأَصْلِحْ مُجْتَمَعَنَا.

اَللّٰهُمَّ مَنْ كَانَ مِنَّا ضَعِيْفَ الْإِيْمَانِ فَقَوِّ إِيْمَانَهُ، وَمَنْ كَانَ مِنَّا مُبْتَلًى فَاصْبِرْهُ، وَمَنْ كَانَ مِنَّا فِي ضِيْقٍ فَفَرِّجْ عَنْهُ، وَمَنْ كَانَ مِنَّا فِي مَشَقَّةٍ فَيَسِّرْ لَهُ أَمْرَهُ.

اَللّٰهُمَّ عَلِّمْنَا أَنْ نَنْصَحَ بِالرِّفْقِ، وَأَنْ نَقْبَلَ النَّصِيْحَةَ بِصَدْرٍ وَاسِعٍ، وَأَنْ نَتَوَاصَى بِالْحَقِّ وَالصَّبْرِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ،

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Sakit Sebagai Ruang Penguatan Keluarga: Perspektif Parenting dan Psikologi Keluarga

Menghadapi Anak yang Enggan Taat: Memahami Akar Masalah dan Strategi Pembinaan yang Efektif

Belajar Ikhlas dari Keputusan Kecil: Ketika Rasa Tidak Enak Mengalahkan Pertimbangan Harga