KHUTBAH JUM'AT: KETIKA DOA BELUM TERKABUL DAN RENCANA BELUM TERWUJUD

NASKAH KHUTBAH JUM’AT

“KETIKA DOA BELUM TERKABUL DAN RENCANA BELUM TERWUJUD”

Boleh jadi yang kita benci adalah jalan menuju kebaikan
---

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ.

نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Takwa bukan berarti hidup kita akan terbebas dari masalah.

Takwa bukan berarti semua doa langsung dikabulkan.

Takwa juga bukan berarti semua rencana akan berjalan sesuai dengan keinginan kita.

Tetapi takwa berarti ketika kehidupan tidak berjalan sesuai keinginan kita, hati kita tetap percaya kepada Allah.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ada orang yang hari ini sedang kecewa.

Ia sudah berdoa lama, tetapi belum mendapatkan apa yang dimintanya.

Ada yang sudah berusaha sungguh-sungguh, tetapi gagal.

Ada yang berharap mendapatkan pekerjaan, tetapi ditolak.

Ada yang berharap melanjutkan pendidikan, tetapi belum berhasil.

Ada yang berharap menikah dengan seseorang, tetapi hubungan itu berakhir.

Ada yang merencanakan sesuatu dengan penuh harapan, tetapi semuanya tiba-tiba batal.

Kemudian hati bertanya:

“Ya Allah, mengapa?”

“Bukankah aku sudah berdoa?”

“Bukankah aku sudah berusaha?”

“Bukankah aku sudah meminta kepada-Mu?”

Jamaah rahimakumullah,

Pada saat seperti itulah kita membutuhkan satu ayat yang sangat dalam maknanya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

«كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»

Latin:

Kutiba ‘alaikumul-qitālu wa huwa kurhul lakum, wa ‘asā an takrahū syai’an wa huwa khairul lakum, wa ‘asā an tuḥibbū syai’an wa huwa syarrul lakum. Wallāhu ya‘lamu wa antum lā ta‘lamūn.

Artinya:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

[QS. Al-Baqarah: 216]

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Ayat ini pada asal konteksnya berbicara tentang kewajiban berperang yang terasa berat bagi kaum Muslimin.

Namun Allah memberikan sebuah prinsip yang sangat agung:

«وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»

“Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”

Inilah kalimat yang harus kita tanamkan dalam hati ketika hidup tidak sesuai dengan keinginan.

Kita melihat hari ini.

Allah melihat hari ini, kemarin, dan hari esok.

Kita melihat satu kejadian.

Allah mengetahui seluruh akibat yang akan lahir dari kejadian itu.

Kita melihat pintu yang tertutup.

Allah mengetahui apa yang ada di balik pintu yang tertutup itu.

Kita melihat sebuah kegagalan.

Allah mengetahui apa yang mungkin tumbuh setelah kegagalan tersebut.

Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan:

“Ini pasti buruk.”

Sebab kita belum mengetahui akhirnya.

Dan jangan pula terlalu cepat mengatakan:

“Ini pasti baik untukku.”

Karena kita juga tidak mengetahui seluruh hikmahnya.

Yang kita tahu hanyalah:

Allah Maha Mengetahui, sedangkan kita terbatas dalam pengetahuan.

---

JAMAah YANG DIRAHMATI ALLAH,

Kadang-kadang sesuatu yang kita cintai justru menjadi sebab kesengsaraan.

Dan kadang-kadang sesuatu yang kita benci justru menjadi jalan menuju keselamatan.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan kandungan ayat ini bahwa seorang hamba tidak boleh menjadikan sekadar rasa suka dan tidak suka sebagai ukuran mutlak tentang apa yang bermanfaat atau berbahaya baginya.

Sebab manusia tidak mengetahui seluruh akibat dari sebuah perkara.

Ia melihat permulaan.

Sedangkan Allah mengetahui kesudahan.

Jamaah rahimakumullah,

Bayangkan seseorang sangat menginginkan sebuah pekerjaan.

Ia berdoa setiap malam.

Ia mempersiapkan diri.

Ia mengikuti seleksi.

Tetapi akhirnya ia gagal.

Saat itu ia menangis dan berkata:

“Ya Allah, mengapa Engkau tidak memberikannya kepadaku?”

Beberapa tahun kemudian, barulah ia mengetahui:

pekerjaan yang dulu sangat ia inginkan ternyata membawa lingkungan yang buruk, menjauhkan dirinya dari keluarga, bahkan membuatnya lalai dari agama.

Barulah ia sadar:

Ternyata penolakan itu bukan akhir dari hidupnya.

Bisa jadi penolakan itu adalah perlindungan yang baru ia pahami bertahun-tahun kemudian.

Tetapi ingat, jamaah:

Kita tidak boleh mengatakan setiap kegagalan pasti seperti contoh tersebut.

Kita tidak mengetahui perkara gaib.

Yang diajarkan agama adalah husnuzan kepada Allah, sabar, terus berusaha, dan menyerahkan hasil kepada-Nya.

---

DOA YANG BELUM TERKABUL

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Ada satu perkara yang sering membuat manusia kecewa:

doa yang belum terkabul.

Sudah berbulan-bulan berdoa.

Sudah bertahun-tahun meminta.

Tetapi apa yang diminta belum juga datang.

Lalu setan membisikkan:

“Mungkin Allah tidak mendengarmu.”

Jangan percaya bisikan itu.

Allah mendengar.

Allah mengetahui.

Allah Mahabijaksana.

Tetapi kita harus berhati-hati dalam berkata:

“Doaku belum dikabulkan berarti Allah sedang menyiapkan sesuatu yang pasti lebih baik.”

Kita boleh berharap demikian sebagai bentuk husnuzan kepada Allah.

Namun kita tidak boleh memastikan sesuatu yang tidak kita ketahui.

Yang pasti adalah:

Allah mengetahui apa yang kita tidak ketahui.

Dan seorang mukmin tetap berdoa, tetap berusaha, serta tetap menjaga adab kepada Allah.

---

JANGAN BERSEDIH KARENA SATU PINTU TERTUTUP

Jamaah rahimakumullah,

Terkadang kita menangisi pintu yang tertutup, sampai kita lupa bahwa masih banyak pintu lain yang Allah buka.

Kita menangisi seseorang yang pergi.

Kita lupa bahwa Allah masih memberikan keluarga.

Kita menangisi pekerjaan yang gagal.

Kita lupa bahwa Allah masih memberikan kesehatan.

Kita menangisi rencana yang batal.

Kita lupa bahwa Allah masih memberikan kesempatan untuk mencoba kembali.

Kita menangisi sesuatu yang belum kita miliki.

Kita lupa mensyukuri begitu banyak nikmat yang sudah berada di tangan kita.

Maka salah satu obat hati adalah:

jangan hanya melihat apa yang hilang; lihat juga apa yang masih Allah berikan.

---

BELAJAR RIDHA, BUKAN BERHENTI BERUSAHA

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ridha kepada ketetapan Allah bukan berarti pasrah tanpa usaha.

Kalau gagal, kita mencoba lagi.

Kalau pintu tertutup, kita mencari pintu lain.

Kalau rencana batal, kita susun rencana baru.

Kalau jatuh, kita bangkit.

Kalau menangis, kita tetap berdoa.

Karena tawakal bukan meninggalkan ikhtiar.

Tawakal adalah melakukan apa yang mampu kita lakukan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Jangan berkata:

“Karena Allah belum memberikannya, saya tidak perlu berusaha.”

Tidak.

Kita diperintahkan berusaha.

Tetapi hati jangan menggantung kepada hasil usaha.

Hati hanya menggantung kepada Allah.

---

HADIS TENTANG SIKAP MUKMIN

Rasulullah ﷺ bersabda:

«عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

Latin:

‘Ajaban li amril-mu’min, inna amrahu kullahu khair, wa laisa dzāka li-aḥadin illal-mu’min. In aṣābat-hu sarrā’u syakara, fa kāna khairan lah, wa in aṣābat-hu ḍarrā’u ṣabara, fa kāna khairan lah.

Artinya:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya.”

Referensi: Shahih Muslim, no. 2999.
Derajat: Shahih.

Jamaah rahimakumullah,

Perhatikan.

Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa seorang mukmin tidak akan mengalami kesedihan.

Tidak.

Mukmin juga menangis.

Mukmin juga kecewa.

Mukmin juga merasakan sakit.

Tetapi perbedaannya:

ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur.

ketika mendapatkan musibah, ia bersabar.

Maka dalam dua keadaan pun ia tetap dekat dengan Allah.

---

JANGAN BIARKAN KEGAGALAN MENGHANCURKAN IMAN

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kegagalan boleh membuat kita menangis.

Tetapi jangan sampai kegagalan membuat kita meninggalkan Allah.

Doa boleh belum terkabul.

Tetapi jangan berhenti berdoa.

Rencana boleh gagal.

Tetapi jangan berhenti berharap.

Jodoh boleh belum datang.

Tetapi jangan menganggap Allah melupakan kita.

Pekerjaan boleh belum didapatkan.

Tetapi jangan berhenti mengetuk pintu rezeki Allah.

Sebab bisa jadi yang sedang diuji bukan hanya kesabaran kita.

Tetapi juga cara kita memandang Allah.

Apakah kita hanya menyembah Allah ketika mendapatkan apa yang kita inginkan?

Ataukah kita tetap menjadi hamba-Nya ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginan?

Itulah kedewasaan iman.

---

PENUTUP KHUTBAH PERTAMA

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Mari kita tanamkan empat kalimat dalam hati:

Jika doa belum terkabul, tetaplah berdoa.

Jika rencana gagal, tetaplah berusaha.

Jika sesuatu yang kita cintai pergi, tetaplah percaya kepada Allah.

Jika sesuatu yang kita benci terjadi, jangan buru-buru berputus asa.

Karena:

«وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»

“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Semoga Allah memberikan kepada kita hati yang lapang menerima ketetapan-Nya, kaki yang kuat untuk terus berusaha, dan jiwa yang tenang dalam menunggu keputusan-Nya.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

---

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Mari kita renungkan sekali lagi:

Tidak semua yang kita inginkan harus menjadi milik kita.

Dan tidak semua yang menjadi milik kita akan selalu sesuai dengan keinginan kita.

Karena kita adalah hamba.

Sedangkan Allah adalah Rabb.

Kita meminta.

Allah menentukan.

Kita berencana.

Allah menetapkan.

Kita melihat sebagian.

Allah mengetahui seluruhnya.

Maka jangan pernah merasa bahwa hidup kita berantakan hanya karena satu rencana tidak berhasil.

Bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita kesabaran.

Bisa jadi Allah sedang mengarahkan kita ke jalan lain.

Bisa jadi kita sedang dijauhkan dari sesuatu yang belum kita pahami bahayanya.

Dan bisa jadi Allah sedang mempersiapkan kita untuk sesuatu yang lebih besar.

Tetapi apa pun hikmah di baliknya, tugas kita tetap sama:

beriman, berdoa, berusaha, bersabar, dan bertawakal kepada Allah.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Mari kita berdoa:

اَللّٰهُمَّ إِنَّا عَبِيْدُكَ وَبَنُوْ عَبِيْدِكَ، نَوَاصِيْنَا بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيْنَا حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيْنَا قَضَاؤُكَ.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوْبًا رَاضِيَةً بِقَضَائِكَ، وَنُفُوْسًا مُطْمَئِنَّةً بِقَدَرِكَ.

اَللّٰهُمَّ إِذَا تَأَخَّرَتْ عَنَّا أُمْنِيَاتُنَا، فَلَا تُؤَخِّرْ عَنَّا رَحْمَتَكَ.

اَللّٰهُمَّ إِذَا أَغْلَقْتَ عَنَّا بَابًا، فَافْتَحْ لَنَا أَبْوَابًا مِنْ خَيْرِكَ.

اَللّٰهُمَّ إِذَا مَنَعْتَ عَنَّا شَيْئًا نُحِبُّهُ، فَارْزُقْنَا الرِّضَا بِمَا اخْتَرْتَهُ لَنَا.

اَللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْ فَشَلَنَا سَبَبًا لِلْيَأْسِ، وَلَا تَجْعَلْ تَأَخُّرَ أُمْنِيَاتِنَا سَبَبًا لِسُوْءِ الظَّنِّ بِكَ.

اَللّٰهُمَّ عَلِّمْنَا أَنْ نَثِقَ بِحِكْمَتِكَ، وَأَنْ نَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَأَنْ نَصْبِرَ عَلَى ابْتِلَائِكَ، وَأَنْ نَشْكُرَ عَلَى نَعْمَائِكَ.

اَللّٰهُمَّ اجْبُرْ قُلُوْبَ الْمَكْسُوْرِيْنَ، وَفَرِّجْ هُمُوْمَ الْمَهْمُوْمِيْنَ، وَنَفِّسْ كُرُبَ الْمَكْرُوْبِيْنَ، وَاقْضِ حَوَائِجَ الْمُحْتَاجِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ مَنْ كَانَ مِنَّا يَنْتَظِرُ فَرَجًا فَفَرِّجْ هَمَّهُ، وَمَنْ كَانَ يَنْتَظِرُ رِزْقًا فَارْزُقْهُ، وَمَنْ كَانَ يَنْتَظِرُ شِفَاءً فَاشْفِهِ، وَمَنْ كَانَ يَنْتَظِرُ ذُرِّيَّةً صَالِحَةً فَارْزُقْهُ، وَمَنْ كَانَ يَنْتَظِرُ زَوَاجًا صَالِحًا فَيَسِّرْهُ لَهُ، وَمَنْ كَانَ يَنْتَظِرُ عَمَلًا وَرِزْقًا حَلَالًا فَافْتَحْ لَهُ أَبْوَابَكَ.

اَللّٰهُمَّ وَإِنْ كَانَ فِيْ مَا نَرْجُوْهُ شَرٌّ لَنَا، فَاصْرِفْهُ عَنَّا، وَاصْرِفْ قُلُوْبَنَا عَنْهُ، وَارْزُقْنَا الرِّضَا بِمَا تَخْتَارُهُ لَنَا.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ،

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Sakit Sebagai Ruang Penguatan Keluarga: Perspektif Parenting dan Psikologi Keluarga

Menghadapi Anak yang Enggan Taat: Memahami Akar Masalah dan Strategi Pembinaan yang Efektif

Belajar Ikhlas dari Keputusan Kecil: Ketika Rasa Tidak Enak Mengalahkan Pertimbangan Harga