Ketika AC Ruang Kelas Rusak: Cerita Sederhana tentang Koordinasi dan Pengambilan Keputusan
Ketika AC Ruang Kelas Rusak: Cerita Sederhana tentang Koordinasi dan Pengambilan Keputusan
Di sebuah lembaga pendidikan, suatu pagi para staf mendapati bahwa AC di salah satu ruang kelas utama tidak lagi berfungsi. Udara terasa panas, kelas menjadi tidak nyaman, dan aktivitas pembelajaran terpaksa dipindahkan sementara ke ruangan lain.
Masalahnya tampak sederhana. AC rusak. Tinggal panggil teknisi, bayar, selesai.
Namun dalam organisasi, hal yang sederhana sering kali memiliki alur kerja yang tidak sesederhana itu.
Awal Masalah: Ketika Fasilitas Utama Terganggu
Unit fasilitas gedung segera melakukan pengecekan awal. Ternyata kerusakan bukan sekadar filter kotor atau kekurangan freon; kompresor perlu diganti. Ini berarti biaya yang cukup besar, dan keputusan perbaikan tidak bisa dilakukan langsung oleh tim teknis.
Mereka pun menghubungi koordinator operasional, dilanjutkan dengan laporan ke sekretariat lembaga. Namun, ada satu kendala: pengajuan anggaran perbaikan besar harus mendapat izin dari pihak manajemen pusat.
Di sinilah persoalan mulai melibatkan beberapa lapisan organisasi.
Usulan Sumber Teknis, Tapi Perlu Payung Kebijakan
Tim operasional sebenarnya sudah punya solusi cepat: mengganti kompresor dengan tipe yang sama seperti merek sebelumnya. Mereka bahkan sudah menghubungi teknisi langganan yang siap datang hari itu juga.
Tetapi prosedur lembaga mengharuskan setiap perbaikan bernilai tertentu mendapatkan persetujuan tertulis dari level manajemen atas. Tanpa itu, unit tidak berani mengeksekusi, karena dikhawatirkan dianggap melanggar aturan keuangan internal.
Dilema pun muncul:
- Jika menunggu persetujuan, kelas akan terus terganggu.
- Jika memperbaiki tanpa persetujuan, bisa menyalahi aturan organisasi.
- Masalah teknis berubah menjadi masalah tata kelola.
Koordinasi yang Tidak Bisa Dilakukan Sekaligus
Koordinator operasional sempat diminta langsung menghubungi pihak manajemen pusat. Namun ia merasa kurang tepat karena baru kemarin mengajukan laporan lain dan belum ada tindak lanjut. Terlalu banyak pesan masuk dapat mengganggu ritme komunikasi.
Maka ia menawarkan alternatif:
mengumpulkan dulu data teknis lengkap sebagai bahan laporan, sebelum dibawa ke manajemen pusat.
Ini sikap profesional:
bukan menolak perintah, tetapi menjaga efektifitas komunikasi vertikal.
Mencari Referensi dari Ahli Netral
Untuk menghindari keputusan yang hanya berdasar perkiraan, koordinator meminta tim fasilitas mencari pendapat kedua dari teknisi independen. Hasilnya:
> “Kompresor bisa diganti dengan tipe baru yang lebih hemat energi. Tidak masalah, hanya saja AC perlu disesuaikan ulang beberapa jam pertama.”
Informasi ini menjadi landasan teknis yang objektif.
Setidaknya, saat diajukan ke manajemen pusat, keputusan tidak dibuat dalam ruang kosong.
Data Teknis Sudah Ada, Eksekusi Tetap Menunggu Keputusan
Meskipun referensi teknis telah lengkap, keputusan tetap belum bisa dijalankan sebelum ada persetujuan resmi dari manajemen pusat. Struktur organisasi mengharuskan demikian.
Ini pelajaran penting:
"Dalam organisasi, yang benar secara teknis belum tentu langsung boleh secara kebijakan.
Keduanya harus berjalan beriringan."
Pelajaran Keorganisasian dari Kasus “AC Rusak”
1. Prosedur adalah Pengaman Organisasi
Kadang terkesan lambat, tetapi prosedur memastikan setiap keputusan sesuai aturan dan dapat dipertanggungjawabkan.
2. Komunikasi Vertikal Harus Dijaga Ritmenya
Tidak semua laporan harus masuk sekaligus. Pengaturan waktu penyampaian adalah bagian dari etika kerja.
3. Referensi Teknis Mengurangi Risiko Salah Keputusan
Sebelum mengajukan anggaran atau meminta persetujuan, data harus lengkap.
Keputusan yang berbasis data selalu lebih kuat.
4. Keputusan Final Tidak Selalu di Tangan Pelaksana
Pelaksana boleh mengusulkan dan memberi rekomendasi, tetapi keputusan tetap ditentukan oleh struktur.
5. Mencari Jalan Tengah Menunjukkan Kedewasaan Berorganisasi
Koordinator operasional tidak memperbaiki AC tanpa izin, namun juga tidak membiarkan masalah menggantung. Ia mencari langkah aman: mengumpulkan data pendukung terlebih dahulu.
Penutup: Mengelola Hal Kecil dengan Cara yang Besar
Masalah AC rusak tampak kecil, tetapi cara organisasi menanganinya mencerminkan budaya kerjanya:
- kehati-hatian,
- komunikasi yang tertata,
- penghormatan pada struktur,
- dan keberanian mencari solusi tanpa menyalahi aturan.
Inilah esensi manajemen modern:
menyelesaikan persoalan teknis sambil merawat tata kelola organisasi.
Komentar
Posting Komentar