Belajar Tidak Terlalu Kaku Menjaga Image: Pelajaran Kepemimpinan dari Panggung Budaya

Dalam sebuah acara dies natalis, suasana terasa berbeda dari biasanya. Hampir semua peserta mengenakan pakaian adat Nusantara dengan penuh warna dan kebanggaan. Ada yang memakai busana Jawa, Sunda, Baduy, Dayak, dan berbagai daerah lainnya. Sebagian kecil memang tidak mengenakan pakaian adat, tetapi mayoritas larut dalam nuansa budaya yang hangat dan meriah.
Salah satu peserta mengenakan pakaian adat Dayak—lengkap, gagah, dan sarat makna. Namun di balik busana tersebut, ada pergulatan batin yang mungkin jarang disadari orang lain.

Ketika Diminta Maju, Tapi Hati Menolak

Saat sesi penampilan pakaian adat dimulai, panitia meminta semua peserta untuk berbaris dan maju ke depan satu per satu, layaknya fashion show sederhana. Banyak yang antusias. Namun ada pula yang memilih menahan diri.

Beberapa kali ajakan datang untuk maju ke depan, tetapi ditolak dengan halus. Alasannya bukan takut, bukan pula tidak percaya diri, melainkan karena merasa perlu menjaga citra peran: sebagai pimpinan unit, sebagai figur yang biasa tampil tenang, berwibawa, dan tidak terlalu menonjolkan diri di ruang publik seperti itu.

Di titik ini, muncul satu pertanyaan penting dalam diri:

> Apakah menjaga wibawa harus selalu berarti menjaga jarak?


Ajakan yang Mengubah Sudut Pandang

Beberapa saat kemudian, datanglah ajakan dari seorang rekan sejawat—seorang profesional, pemimpin unit juga, yang mengenakan pakaian adat Baduy. Ajakan itu sederhana: maju bersama.

Ajakan tersebut mengubah banyak hal. Ada rasa setara, rasa kebersamaan, dan rasa bahwa ini bukan soal pamer, melainkan ikut merayakan kebudayaan dan kebersamaan.

Di situlah kesadaran muncul:

> Tidak semua hal harus dipikul sendirian, dan tidak semua peran harus ditampilkan dengan wajah yang kaku.


Akhirnya, langkah pun diambil. Berbaris, maju, dan berjalan ke depan mengikuti alur acara.

Menjadi Diri Sendiri di Ruang Publik

Saat giliran tampil, tidak ada gaya berlebihan. Tidak pula dibuat-buat. Cukup menyesuaikan dengan karakter busana adat yang dikenakan: tegap, sederhana, dan gagah. Sebuah ekspresi yang tetap menjaga nilai diri, tanpa kehilangan sisi manusiawi.

Momen itu menjadi titik balik kecil namun bermakna:
- bahwa pemimpin juga manusia,
- bahwa wibawa tidak runtuh hanya karena tersenyum dan melangkah santai,
- bahwa kedekatan sering lahir dari kesediaan untuk “turun” ke ruang yang sama dengan orang lain.


Pelajaran Kepemimpinan dari Sebuah Catwalk Sederhana

Dari pengalaman ini, ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik dan relevan bagi siapa pun—baik pemimpin, pendidik, maupun profesional:

1. Wibawa Tidak Selalu Identik dengan Kekakuan

Wibawa sejati lahir dari integritas dan konsistensi, bukan dari jarak yang dibuat-buat.

2. Fleksibilitas Adalah Tanda Kedewasaan

Mampu menempatkan diri sesuai konteks adalah bagian dari kecerdasan sosial seorang pemimpin.

3. Menjaga Image Boleh, Tapi Jangan Kehilangan Rasa

Citra diri yang sehat adalah citra yang manusiawi, bukan citra yang menekan diri sendiri.

4. Kepemimpinan Juga Tentang Kebersamaan

Maju bersama sering kali lebih bermakna daripada berdiri sendiri di belakang layar.

5. Tidak Semua Hal Perlu Ditanggapi Terlalu Serius

Ada saatnya peran profesional dilepas sejenak untuk merayakan momen kebudayaan dan kebersamaan.

Refleksi Akhir: Menjadi Pemimpin yang Utuh

Pengalaman sederhana ini mengajarkan bahwa menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu tampil sempurna dan formal. Justru, ketulusan, keluwesan, dan keberanian untuk hadir apa adanya sering kali membuat sosok pemimpin lebih dihormati dan dicintai.

Kadang, pelajaran hidup datang bukan dari rapat resmi atau forum ilmiah, melainkan dari langkah kecil di depan panggung budaya, diiringi tawa ringan dan keikhlasan hati.

Dan dari sana, kita belajar satu hal penting:

> Menjaga martabat tidak harus menghilangkan kegembiraan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gerhana Hibrida 2023

Hari Sakit Sebagai Ruang Penguatan Keluarga: Perspektif Parenting dan Psikologi Keluarga

Menghadapi Anak yang Enggan Taat: Memahami Akar Masalah dan Strategi Pembinaan yang Efektif